-->

Kisah Cinta Remaja Yang Kandas Di Tengah Jalan

TAMAN RIA Remaja Senayan. Terlihat air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala bebek. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga.

Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang senyum, tertawa cerah. Atau bercanda ria.
Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Taman Ria ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di antaranya, ada seorang yang tidak menampakkan wajah gembira. Gilang ! Dia
duduk di atas rerumputan pebukitan yang memanjang. Matanya memandang ke depan. Sebentar meredup, sebentar membola. Seperti ada golakan di dalam hatinya. Seperti gelombang yang menderu-deru. Tiap sebentar menghela napas panjang!

Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal-gumpal di sela-sela langit biru. Gilang merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kedua lengannya disilangkan di bawah kepala. Lama dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah.

Perempuan. Cantik. Dan tik. Dan Gilang menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum.
Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang paling manis di dunia ini. Gilang memejamkan matanya. O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lisa. Wajah seseorang yang dicintainya.

Gilang membuka matanya lagi. Secara jujur, Gilang, pemuda yang berusia sekitar Delapan belas tahun itu, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lisa. Belum pernah sebelumnya, Gilang mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lisa, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berobah menjadi kebencian. Kebencian amat sangat. Gilang merentak. Setengah menyentak, dia bangun dari sikap berharingnya. Berpaling ke kiri dan meludah.

Dan . . . tiba-tiba mata Gilang bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan.
Gilang terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ. Gilang tidak melihatnya pada beberapa menit yang lalu. Perempuan itu, berwajah tirus dengan sepasang mata bola yang indah, dengan rambut dibiarkan tergerai pada bahunya, masih saja memandang Gilang. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Sendirian ! Gilang menelan ludah! Uf! Mata yang indah. Duduk dengan sikap agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap. Dan menyembullah pahanya yang memutih penuh !


Gilang segera menarik pandangnya dan melemparkannya ke arah lain. Ugf! Persetan dengan perempuan. Walau bagaimanapun cantiknya. Tentu dia tidak berapa jauh dengan Lisa! Gilang memandang langit. Tetapi . . . mata perempuan itu sangat indah . . . Lebih indah dari pada mata Lisa. Secara naluriah. Gilang berpaling lagi ke kiri. Dan lagi-lagi matanya bentrok. Ugf! Perempuan itu membalas senyum Gilang. lni benar-benar di luar dugaan. Dan Gilang berpikir, perempuan itu cuma sendirian. Hmm! Gilang mengangguk. Dan hati Gilang jadi mengembang, bila perempuan itupun itu pun membalas mengangguk.

"Aku tidak boleh ge-er!" ujar Gilang dalam hati. "Aku tidak boleh mengharapkan terlalu banyak. Cukuplah bila bisa ngobrol-ngobrol. Dia sendiri. Dan akupun sendiri. Lumayan menjadi teman ngobrol!" Berpkir demikian, Gilang menunjuk dirinya, kemudian menunjuk perempuan itu. Maksudnya, Gilang menanyakan. bagaimana kalau Gilang menemani perempuan itu duduk. menikmati alam indah Taman Ria. Perempuan itu tertawa kecil sambil mengangguk. Dan Gilang tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu. Segera dia berdiri dan menghampiri perempuan itu.

"Tidak mengganggu?!" tanya Gilang sambil duduk di sisi perempuan itu.
"Senang sekali ditemani!" jawab perempuan itu.
"Sendirian?" tanya Gilang.
"Seperti yang kamu lihat!" kata perempuan itu sambil mengerling. Kemudian melanjutkan: "Sebenarnya saya menunggu seseorang."
"Pacar?!"
"Belum bisa dikatakan begitu. Hanya kawan biasa. Dan kamu?!" tanya perempuan itu, yang tahu betul bahwa Gilang jauh di bawah umurnya.

"Saya memang datang sendirian," ujar Gilang.
"Nggak sama pacar?!" tanya perempuan itu sambil tersenyum.
"Saya . . . eh, belum punya pacar."
"Bohong!" kata perempuan itu spontan.
"Kenapa menuduh saya bohong?!" Gilang mengernyitkan keningnya.
"Umur kamu berapa?!"
"Delapan belas!"
"Delapan belas tahun, belum punya pacar. Siapa yang mau percaya!"
"Tetapi saya betul-betul belum punya pacar!" jawab Gilang. Padahal dalam hati, Gilang sangat menyesali ucapan mulutnya. "Aku bohong, . Aku sebenarnya punya pacar. Tetapi aku sebel sama dia!"
"Nama kamu siapa?!"

"Gilang. Dan nama ?!"
"Aningsih."
"Ya. Kenapa?!"
"Nggak apa-apa! Nama yang manis!"
Perempuan itu tertawa kecil sambil memukul bahu Gilang. "Uf kamu ini! Baru ketemu, sudah merayu!" "Saya nggak merayu, . Nama memang manis, seperti orangnya. Cantik. Lincah. Dan ketawa itu, lho!"

"Memangnya kenapa dengan ketawaku?!"
"Manisnya nggak ketulungan!"
Perempuan itu ketawa lagi. ketawa lagi !
"Makin manis saja," kata Gilang.
Perempuan itu, yang menyebutkan namanya Aningsih, memukul bahu Gilang. Ganti Gilang yang ketawa-ketawa senang.
"Kamu seharusnya sudah punya pacar."
"Nggak ada perempuan yang mau sama saya."
"Bohong! Kamu ganteng! Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu!"
"Sungguh kok, ," kali ini Gilang bicara lebih serius. Dicabutnya sebatang rumput yang tumbuh di hadapannya. Digigitinya ujungnya sampai hancur. Kemudian dilemparkannya. Lalu berkata dengan suara lebih perlahan: "Tak ada perempuan yang mau sama saya!"
"Mengapa kamu beranggapan demikian?!"
"Kenyataannya memang begitu."
"Jangan-jangan kamu sendiri yang jual mahal. Sebenarnya banyak perempuan yang mau sama kamu. Tetapi kamu sombong. Tidak memandang sebelah mata pada mereka!"
"Tidak begitu, kok!" jawab Gilang. "Saya biasa-biasa saja!"
"Kalau kamu biasa-biasa saja pasti sudah punya pacar!"
Gilang mencabut lagi sebatang rumput, menggigitnya, kemudian membuangnya lagi jauh-jauh. "Saya memang pernah punya pacar. Kan saya sangat mencintainya. Tetapi . . . " terputus ucapan Gilang.
"Tetapi mengapa . . . ?!" bertanya Ning antusias. Rupanya dia ingin tahu. Gilang mencabut lagi sebatang
rumput. Seperti tadi, digigitnya, kemudian dilemparkannya jauh-jauh.
"Putus, ."
"Mengapa putus?!"
Gilang diam. Memandang ke arah danau. Ning juga memandang ke arah danau, lalu kembali pada Gilang.
"Mengapa putus?!" Ning mengulangi pertanyaannya.
"Barangkal sudah begitu nasib saya!"
"Pasti kamu yang memutuskan. Kamu sudah bosan sama dia. Kamu kepingin ganti pacar lain. Maka kamu mencari gara-gara!"
"Saya tidak serendah itu."
"Lalu mengapa bisa putus?!"
"Dia yang memutuskan."
"Dia pacaran dengan lelaki lain?!"
"Ya!"
Aningsih menghela napas. "Kalau begitu, kamu patah hati sekarang. Tidak apa. Kisah cinta tidak selalu berjalan mulus Kamu laki-laki. Tidak boleh cengeng. Masih banyak yang bisa kamu harapkan dalam hidup ini. Perempuan tidak cuma satu di dunia ini!"
"Barangkali memang begitu. Tetapi saya sulit sekali melupakannya."
"Kamu sangat mencintainya?!"
"Ya!"
"Kamu harus berusaha melupakannya. Itupun kalau kamu benar. Jangan-jangan kamu cuma bohong!"
"Sungguh kok, Ning. Saya tidak bohong. Kalau tidak percaya, boleh melihat fotonya," sambil berkata demikian Gilang mengambil dompetnya dan mengeluarkan sehelai foto berukuran separoh kartu pos. Diserahkannya pada Ning. Perempuan itu mengamat-amati foto itu. Foto seorang gadis separuh badan.
Cantik. Berusia sekitar dua puluh satu tahun.
Ning menyerahkan kembali foto itu.
"Cantik memang. Pantas kamu sangat mencintainya. Tetapi lihat, gadis ini type setia. Rasanya hampir tidak mungkin kalau dia mengkhianati cinta kalian!"

Gilang menyimpan kembali sehelai foto itu ke dalam dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang
celananya. "Mengapa tidak percaya, padahal saya sudah menceritakan yang sebenarnya."
"Kalau memang begitu, yah . . . apa boleh buat. Kamu harus tabah," suara Aningsih seperti yang sedang memberi petuah.
"Ya, memang. Saya harus tabah," ujar Gilang.
Angin melembut, menggerai-geraikan rambut mereka. Perahu-perahu masih saja hilir mudik di danau buatan. Pucuk-pucuk pinus bergoyang di ke jauhan. Di bawah mereka, di aspal jalan yang melingkari bukit kecil panjang itu. Ada sepasang manusia yang berjalan mesra sekali. Lengan si lelaki melingkari pinggang si wanita. Sedangkan kepala si wanita menyandar ke bahu si lelaki. Mesranya! Selangit!
"Kadang saya sering iri jika melihat kemesraan orang lain," ujar Gilang yang melihat sepasang insan yang saling mencinta itu.

"Kalau begitu, mengapa kamu datang ke mari sendirian?! Di sini banyak sekali pemandangan yang menyiksamu!" "Tempat ini banyak memberikan kesan pada saya, . Saya dan Lisa datang ke mari. Kami bermesraan. Saya senang mengembalikan kesan-kesan itu!"

Ning tertawa. "Kau salah!" katanya. "Yang begitu, malah akan semakin menyiksamu!"
"Yah, saya memang salah. Memang salah!" ujar Gilang seperti mengeluh. Lalu Gilang mencabut lagi sebatang rumput. Digigitinya. Lalu dilemparkannya kembali. "Dan sendiri?! Mengapa ada di sini?!"
"Sudah kukatakan, bukan?! Aku menunggu seseorang." kali ini wajah Ning menampakkan kegelisahan.
Gilang menatap lebih tajam. "Kelihatannya bohong!"
"Kamu tidak percaya?!"
"Ya! Saya tidak pereaya!"
"Apa yang menyebabkan kamu tidak percaya?!"
"Mata ! Mulut , bisa bohong. Tetapi mata tidak. Mata lebih jujur!"
Aningsih menggigit-gigit bibirnya sendiri. "Saya tidak bohong."
"Lalu, yang menunggu itu, tidak datang?!"
"Sudah hampir satu jam aku menunggu. Rasanya dia memang tidak datang."
"Barangkali dia ada halangan."

"Ya! Barangkali!" Aningsih melihat ke jam tangannya. Sudah jam lima lewat. Matahari sudah redup di langit.
Angin bertambah sejuk semilir. Lama mereka ngobrol. Melompat dari satu masalah ke masalah lain. Kebanyakan tidak penting. Suasana petang semakin hilang. Berganti dengan gelap. Bulan di langit tersenyum. Bulan sabit.

Dipebukitan tidak hanya mereka berdua. Tetapi banyak lagi yang lain. Mereka adalah pasangan-pasangan yang saling memadu kasih. Dan sekarang, Aningsih dan Gilang tidak lagi berjauhan. Aningsih meletakkan kepalanya ke bahu Gilang. "Kalau saja pacar melihat kita, tentu akan cemburu!" ujar Gilang.

Akingsih tersenyum. "Aku belum punya pacar." katanya. "Lalu?! Lelaki yang janjian sama , yang ternyata sekarang tidak datang?!"
Aningsih menggeser-geser rambutnya ke leher Gilang, "Lelaki itu belum lama kukenal. Baru dua kali bertemu. Dan sekarang dia tidak datang. Janjinya tidak bisa kupercaya!" ujar Aningsih.
Gilang merasakan geli yang nyaman ketika Aningsih menggeser-geserkan rambutnya ke lehernya. Geli yang merambati pembuluh-pembuluh darahnya. Angin malam berkesiur dingin, menusuk tulang. Tetapi tidak demikian
halnya dengan Ning dan Gilang. Keduanya sama sekali tidak merasakan dingin. Hati mereka hangat. Lengan- lengan mereka saling merangkul. erat. Keduanya merasakan diri melayang. Bayang-bayang pepohonan menimpa
mereka. "Boleh aku ke rumah Ning kapan-kapan?!" tanya Gilang.
"Mengapa tidak?! Aku senang sekali kalau kau mau datang." kata Ning.
"Pasti! Pasti aku akan datang!" kata Gilang.
Lalu mereka berkecupan. Hangatnya bibir Gilang. Hangatnya bibir Ning. Lalu tangan-tangan mereka saling bergenggaman. Lalu saling meremas. Lalu berkecupan lagi. Mesranya. Dan bayang-bayang pohon semakin menghitam. Angin semakin dingin berkesiur. Mereka tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sudah lama saling memadu kasih. Sampai akhirnya, Aningsih seperti tersadar menatap jam tangannya. "Ah, sudah jam delapan!" katanya. Lalu dilepaskannya rangkulannya. "Kita pulang, Ben!"
Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Gilang dan Aningsih melangkah kecil, menuruni pebukitan itu. Lengan Gilang melingkari pinggang Aningsih yang ramping. Suatu ketika, hampir Aningsih tergelincir. Lengannya bergelayutan di leher Gilang. Gilang cepat meraih pinggang Aningsih erat-erat. Mereka berpelukan sambil berdiri. "Kuantarkan pulang." ujar Gilang
"Tidak. Biar aku pulang sendiri."
"Kata , aku boleh ke rumah Ning."


"Boleh. Tetapi tidak sekarang."
"Kalau begitu, Malam Minggu nanti?!"
"Jangan Malam Minggu."
"Pacar datang. ya?!"
"Bukan. Malam Minggu nanti aku ada acara keluarga."
"Acara apa ?! Ulang tahun?!"
"Bukan! Arisan keluarga! Ah, kau banyak tanya."
"Kalau begitu, Malam Rabu depan. Seminggu lagi?!" Aningsih mcngernyitkan keningnya. "Baiklah! Aku tunggu kau!" lalu Aningsih menyetop taksi. Sejurus kemudian, taksi pun melesat meninggalkan Gilang yang masih saja mematung memandangi taksi itu.
Lalu Gilang menstarter motornya.
Sungguh, dia tak menyangka, malam ini akan bertemu dan berkenalan dengan Ning. Dan dia tak menyangka, bahwa perkenalan itu cepat menjadi rapat. Keduanya tersenyum-senyum kecil. Terbayang kembali,
bagaimana mesranya bihir Ning menindih bibirnya. Betapa hangatnya. Betapa lembutnya. Hampir saja Gilang menubruk bus tingkat yang
tiba-tiba saja berhenti. Untunglah naluri Gilang cukup tajam untuk menghindari tubrukan itu. Gilang TIDAK dapat melupakan Aningsih. Di tempat pekerjaannya, Gilang tetap ingat. Ini menjadikan Gilang
banyak melamun. Nelly mengageti Gilang. Gilang tersentak. Hampir saja berhenti jantungnya. Nelly terkikik- kikik. "Tampangmu lucu sekali kalau lagi kaget," kata Nelly sambil menutupi mulutnya.

"Kalau jantungku putus, apa kamu bisa ganti?!" tanya Gilang kheki.
"Bisa! Aku ganti saja sama hati monyet!"
"Enak saja! Apa kau kira aku ini satu keluarga dengan monyet?! kata Gilang lagi.
"Aku tahu. Pasti Gilang lagi kasmaran," ujar Oding.
Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Gilang melamun. Dan Aningsih yang dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya. Semua, semua. Dan Gilang membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain. Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya lama sekali sampai menunggu hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti!
HARI RABU.
"Ning tinggal sendirian di sini?!" tanya Gilang pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Gilang, bahkan Aningsih tampak lebih cantik dan menawan.
"Tidak! Bersama teman, . Hilda! Dan seorang pembantu!" jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Gilang.
Gilang mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orangorang yang apik.
"Ning kerja?!" tanya Gilang lagi.
"Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga," kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya. "Kau tunggu sebentar. mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!" kemudian Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi.

Mata Gilang tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang.
Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus.
Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: "Gilang benar-benar datang!" Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Gilang akan menepati janji.

Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.
"Bennnn !!!" Gilang yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang memanggilnya mesra.
Gilang menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Gilang terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Gilang tidak berkedip. Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Gilang. "Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!"
"Ah, tidak. Aku . . . eh, cantik sekali!" kata Gilang gelagapan dan serba salah. "Wowww! Rayuan gombal!" ujar Ningsih sambil mengerling manis. "Bennn!! Tolong aku, ya . . . ?!" "Tolong apa, ?!"
"Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar mandi." kara Aningsih dengan suara manja. Suara yang membuat hati Gilang panas dingin. Gilang segera ke kamar , Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. "Terima kasih, Ben!" ujar Aningsih sambil mengenakan sendal yang diambilkan Gilang.
Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba-tiba kaitan handuk Aningsih terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah. Aningsih terkejut. "Oh . . . !" serunya. Tetapi Aningsih sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Yang terlebih gawat adalah Gilang. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan Gilang tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya Aningsih. "Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!" Aningsih meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Gilang yang ketat. "Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !!" Aningsih masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah, tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala Aningsih menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir Gilang yang mencari-cari bibirnya. Gilang tak sabar. Didorongnya tubuh Aningsih. Ditekankannya ke dinding kamar mandi, sehingga Aningsih tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Gilang berhasil menangkap bibir Aningsih. "Hmmmm! Mmmmmm !!" Aningsih tidak lagi meronta. Matanya segera meredup. Menerima pelukan dan kuluman bibir Gilang yang hangat. Bahkan sekarang, Aningsih ikut membalas. Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Gilang. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah Aningsih mengait-ngait lidah Gilang. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Gilang semakin membuncah. Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan dada Gilang yang bidang! "Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!"
"!! Ssssh !!"
"Sesak napasku, Bennnnn!!"


"Biarlah sesak!"

"Putus jantungku!"
"Biarlah putus!"
"Kalau aku mati . . . ?!!"
"Aku akan ikut mati!"

Aningsih tertawa sambil mencubit pipi Gilang. "Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau benarbenar mau ikut mati?!"

"Mau! Demi !.'ujar Gilang sambil menciumi leher Aningsih dengan lembut sekali. Aningsih menggeliat- geliat. Lehernya menggeleyong-geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan.

"Benn . . . !!" Aningsih menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya. "Ada apa ?!"
"Mengapa kau bersikap begini padaku?!" dan Aningsih lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Gilang menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok. "Saya . . . saya . . . cinta pada . . . !!" ujar Gilang di tengah dengus-dengus napasnya. Aningsih tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Gilang. "Kamu nggak bohong?!" tanya Aningsih sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Gilang lebih le-luasa melakukan aktifitasnya.
"Saya nggak bohong, !"
"Kamu bohong . . . !" Aningsih memijit hidung Gilang dengan gemas.
"Aww . . . !" Gilang menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat.
"Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol! Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan menangis!" ujar Aningsih sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang kemerahan menantang itu kedada Gilang yang bidang. Dan Gilang merasakan sesuatu mengutik-utik di antara kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya.
"Tetapi aku tidak begitu, . Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!" Gilang panas dingin menahankan sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut.
"Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh-sungguh mencintaiku?!" Aningsih melepaskan satu demi satu-satu kancing hemd Gilang. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar mandi yang basah.
Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Gilang sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah Aningsih bilamana bulu-bulu dada yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya.
"Bennn!" bisik Aningsih.
"Ada apa, sayang?!" tanya Gilang. "Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!" Gilang tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya Aningsih ke luar dari kamar mandi. Mbok Inem, pembantu Aningsih sedang ke pasar. Gilang meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring. Aningsih menatap tubuh Gilang yang aduhai itu. Gilang hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna putih. selangkangan Gilang tampak menonjol. Dan Aningsih menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Gilang. Dan Aningsih sekali lagi menelan ludah.
"Bennnn . . . !!" ujar Aningsih. "Ada apa, sayang?!"
"Bukalah celana dalammu. Bukalah!"
Gilang tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata Aningsih membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Gilang! Senjata yang menggayut setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting:

Bukan main! Seumur hidupnya, Aningsih belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu.
BUKAN BARU sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa lelaki seperti Gilang sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya! Aningsih membiarkan saja Gilang meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Gilang meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan. Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Gilang hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. "Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!" ujar Aningsih sambil membusungkan dada yang sedang diremas Gilang, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.

Gilang memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Gilang menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Aningsih semakin deras saja!

"Ben !! Kamu sering main perempuan!" tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah. "Tidak sering,. Baru beberapa kali saja." ujar Gilang sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.
"Auww . . . !!" Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Gilang. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Gilang sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. "Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!" dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Gilang sambil menekankan.
Gilang semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Gilang. Dilepaskan. Dikulum.
Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan- bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Gilang melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar
keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. "Oukh, Gilang! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!" mulut Aningsih mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada
Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Gilang menggeser- geserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. "Gilangy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu.
Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !" dan Aningsih merintih-rintih.
Gilang semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Gilang mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi.

Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Gilang yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.
Lama Gilang mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Gilang tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Gilang. Gilang memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Gilang, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.

Gilang menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut.

"Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!" bisik Aningsih terputus-putus.
Gilang bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Gilang juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Gilang.
Permainan lidah Gilang terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip.
Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Gilang berulang- ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Gilang membelai-belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup.
Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Gilang. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Gilang yang aduhai. Gilang yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. "Oukh. . . . !" katanya. Aningsih merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Gilang masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti.

"Sabar, !" bisik Gilang. "Nanti boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh . Seluruh tubuh ! Kurang leluasa kalau menggengam punyaku begini!" Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.

Dan . . . hhmmmh! Gilang menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin.

Dan sekarang, secara jujur, Gilang harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Gilang menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Gilang akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Gilang bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. "Oukh, Ben!" Aningsih menepuk pipi Gilang lembut. "Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!"

Gilang menelan ludah sambil tersenyum. "Bukannya aneh, . Tetapi anumu, nih . . . !" ujar Gilang sambil membelai rambut kemaluan Aningsih. "Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu.

Tentunya enak sekali. Hmmh!"
Aningsih tertawa kecil. "Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!" tanya Aningsih sambil menggosok- gosok bulu-bulu rambut di dada Gilang.

"Senang sekali, . Senang sekali," Gilang masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu.
"Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!"
"Belum, . Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!" ujar Gilang.
Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Gilang. "Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!"
Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Gilang akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang kini sudah terpampang di hadapannya.

Gilang menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu.
Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya.
Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit.
Jari-jari tangan Gilang bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!
"Bennn !!" Aningsih merintih.
Gilang menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan.

Gilang menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Gilang meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan.

Gilang memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Gilang agak kuat.
"Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!"
Gilang tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Gilang masih ingin lebih lama memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Gilang menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. "Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!" Aningsih menggeliat. Jari Gilang terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.

Gilang menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Gilang menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Gilang senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. "Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!" Aningsih merintih-rintih.

Tingkah Gilang saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Gilang menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut Gilang.

Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Gilang semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas.

Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: "Awww . . . !" Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Gilang telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. "Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!" Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Gilang dengan kedua tangnnya.

Maka hidung Gilang mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Gilang terus dengan giatnya menciumi.

Vagina Aningsih menyebarkan aroma yang segar merangsang! "Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!" "Aku juga, ! Aku . . . aku . . . juga enak," bisik Gilang sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat.

Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. "Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!" tersendat-sendat suara Aningsih.
"Senang sekali, ! Punyaku jadi semakin tegang, nih!" kata Gilang tersendat-sendat pula. Dan lidah Gilang terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih.

Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas.
Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.
Gilang benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Gilang semakin rakus dan semakin rakus.

"Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!" suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Gilang mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian mear nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. "Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!" Aningsih merentak-rentak.

"Ayoh, ! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!" ujar Gilang yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya.
"Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan.
Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Gilang sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Gilang membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Gilang yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih.

Gilang yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali.

Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Gilang sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini ! Gilang tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih melompat dan memeluk Gilang kuat-kuat. "Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!" dan Aningsih menciumi bibir Gilang bertubu-tubi.

"Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! "ujar Gilang. "Kau tidak jijik, Ben ?!"
"Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!" Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Gilang bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. "Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!" ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Gilang.
"Auwww . . . !" Gilang menjerit kaget.
Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Gilang yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian.

Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. "Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!" Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja. "Kamu suka pada punyaku, ?!" tanya Gilang sambil membiarkan Aningsih mengeser-geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya.

"Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!" "Ngeri kenapa?!" "Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!" Beny teatawa kecil. "Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!" "Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!" ujar Aningsih. Gilang tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. "Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini," ujar Aningsih lagi. Gilang merasakan geli dan nikmat bukan main ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat dirasakan Gilang. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. "Hmmh, ! Sssh . . . !" mulutnya mulai merintih-rintih.

Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. "Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!" ujar Aningsih. Gilang tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa.

Lezat! Alat vital dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Gilang yang tertekuk.

Kedua paha Gilang terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Gilang yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih.

Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Gilang nienggelinjang kaget namun nikmat. "Ouw, ! Hmmh . . . enak sekali, !" Gilang merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.

Mendengar rintihan Gilang, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Gilang. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Gilang merintih-rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat.

Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Gilang yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Gilang.

"Enak, Ben . . . ?!" tanya Aningsih ditengah-tengah kesibukannya. "Enak sekali . Ennaaakkkh !!!" Gilang berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya. Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Gilang keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Gilang gemetar.

Jemarinya mencengkeram rambut Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Gilang menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat.
Dan batang serta kepala kemaluan Gilang pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan Aningsih mengocok pangkal kemaluan Gilang dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : "Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!" menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut- denyut dengan dahsyatnya.

Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Gilang menggigil. Aningsih tidak menyia- nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Gilang. Maka tanpa ampun, bergumpal- gumpal cairan kenil:matan Gilang, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih.

Mata Aningsih sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Gilang setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. "Oukh, . Kau sungguh hebat!" bisiknya.
Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. "Bagaimana, Ben?! Enak?!" tanya Aningsih.

Gilang menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. "Enak sekali, . Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!" ujar Gilang.
Aningsih tersenyum mendengar pujian Gilang, "Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!" ujar Aningsih.

Gilang melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Gilang menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis.
"Gilang . . . !" mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu." Dan Aningsih melirik ke selangkangan Gilang. Senjatanya masih tegang mengacung. "Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!" bisik Gilang sambil membelai rambut Aningsih.

HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Gilang naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Gilang menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih.

Aningsih menggenggam batang bazoka Gilang yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Gilang yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Gilang yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar-lebarnya. "gilaaang . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!" bisik Aningsih gemetar.

"Kepunyaanmu besar sekali!" Gilang mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. "Ayoh, gilaaang! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!" Aningsih memejamkan matanya.
Gilang mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: "Auww . . . !!!" Aningsih menjerit tertahan. "gilaaang!! Sssaakkhittsss!" dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih.

Gilang mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Gilang merasakan lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya! "Ayoh, gilaaang! Tekan lagi!" bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang.

Gilang menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Gilang yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: "Addduuhhh! gilaaang! Ssssaakkhittss " "Tahankan, sayang!" bisik Gilang sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang. "Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!"

Gilang membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Gilang bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Gilang keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep! Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot.

Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku," kata Gilang. "Kepunyaanmu terlalu besar, Ben," ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin mendatangkan nikmat bagi Gilang.

Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. "Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!" tanya Gilang sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang-gelinjang geli. "Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat." bisik Aningsih. "Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!" ujar Gilang. "Kemaluanmu juga enak, . Enak sekali!"

"gilaaang . . . !!" Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Gilang.
"Ada apa?!" tanya Beatty.
"Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!"
"Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!" Gilang meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.

"Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang," bisik Gilang dengan mesranya. "Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!"
"Ayoh, sayang! Aku sudah siap," kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.

Dan Gilang pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Gilang menghentikan dorongannya.

Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. "Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!" kaki Aningsih menjepit pinggang Gilang.

Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Gilang ke bawah. Gilang mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi. Tetapi bukannya mendorong, Gilang malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar.
Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Gilang mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih.

Aningsih menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, "Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!" semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali.
Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Gilang pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh Aningsih kuat-kuat.

Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!" Akh. ! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!" Gilang meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih merasakan batang zakar Gilang berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.

Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Gilang merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Gilang. "Luar biasa sekali," ujar Aningsih. "Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!" "Aku juga begitu, . Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!" balas Gilang. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.

Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.
Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Gilang. "Aku semakin mencintaimu, !" bisiknya.
Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. "Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!" ujarnya Aningsih. "Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, !" ujar Gilang lagi.

"Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, . Dan aku ingin memilikimu!"
Aningsih memijit hidung Gilang dengan mesra. "Ih, dasar bandel!" ujar Aningsih. "Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!"
""Tidak, . Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, ?! Apalagi?!"

"Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!
Gilang tidak menjawab. Hanya merenung.

"Deagarlah, Ben!" ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Gilang. "Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!"

"Baiklah, . Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu," jawab Benay. JAM SATU lewat tengah malam, Gilang meninggalkan rumah Aningsih. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Gilang ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Taate Dewi sendiri yang membukakan pintu.

"Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya," kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany. Tidak biasanya Gilang pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Gilang termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran. "Ini, Tante.

Teman ulang tahun!" ujar Gilang seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang. Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Gilang ke kamar. Baru saja Gilang melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Gilang! Uf!" Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!" ujar Dewi sambil mulutnya menghujani bibir Gilang bertubi-tubi.

"Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!" ujar Gilang sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi. Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Gilang, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Gilang. Sesaat kemudian, hemd itu telah melayang kc lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri.

Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Gilang yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya.
"Gilang! Tante sudah sangat rindu. Sudah lama mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!" ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Gilang yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremas- remas milik Gilang yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon.

Dalam waktu tidak lama senjata Gilang sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Gilang, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Gilang. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa.

Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya. Dan: "Ohg . . . !!" kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. "Hnmmhh . . . ehg!" Gilangpun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang.

"Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!" Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Gilang segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi. Blassssh! ! !" Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!" Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Gilang telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang.

Demikian pula halnya Gilang. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Gilang. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Gilang.

Demikian pula Gilang. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Gilang mendesah- desah.
Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu.
Gilang mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga.

Tantea Dewi di atas dan Gilang di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Gilang bertubi-tubi. Gilang membalas tak kalah semangat.
Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan Gilang pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Dewi yang kenyal, padat dan besar.

Tentu saja dengan remasan-remasan mesra!
Tante Dewi semakin lama semakin kesetanan. Gilang pun demikian pu1a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak.
"Ehb, Bennn . . . !!!"
"Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!"
"Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!"
"Sssst! Hmmmh . . . !!"
"Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!"
"Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!"
"Bennnnn !!!" Tante Dewi semakin kesetanan.

Tangannya mengerumasi dada Gilang, sehingga Gilang kesakitan.
Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Gilang. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Gilang membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah.

Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Gilang ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkal- pangkalnya!
"Bennnnnnn!!" Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Gilang." Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!" bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent.
Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin. Secara hampir bersamaan pula Gilang pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Gilang memeluk Tante Dewi kuat-kuat.

Dan kemudian dengan sigap, Gilang membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Gilang menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Gilang berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang memang sudah banjir!
Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Gilang. Terkulai lemas. "Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!" bisik Tante Dewi sambil memeluk Gilang dari samping.

Gilang tak menjawab. Memandang langit-langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Gilang bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Gilang yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen panas juga.

Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Gilang. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Gilang bangkit kembali. Napas Gilang mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.

"Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!" ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Gilang, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Gilang meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih. "Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!"

Ditantang seperti itu, tentu saja Gilang yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Gilang benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap.
Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja.

Gilang mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur.
Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah.
Dan, "Ehg . . . !!" Tante Dewi menahan napasnya.
Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Gilang, namun pada saat pertama kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit! "Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!"
ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Gilang yang memeluk pinggangnya dari belakang.

Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. "Hantammm, Bennnnn!" ujar Tante Dewi yang seolah- olah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur.

Gilang segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang. "Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh!!" Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau.

Gilang merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat nafsunya semakin bergelora. "Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!" Gilang menggumam dengan mata merem melek. Pada waktu senjata Gilang menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu. "Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . !!

"Tante Dewi mcnggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Gilang menarik senjatanya, Gilang agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Gilang merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir-pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Gilang terkesan oleh Tante Dewi!

Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Gilang benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Gilang yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Gilang kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah main dengan lelaki-lelaki lain.

"Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!" bisik Tante Dewi. "Ih, Tante kayak kuda betina saja!" kata Gilang sambil memijit hidung Tante Dewi. "Dan kau kuda jantannya!" Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Gilang. "Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!"

Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya sama- sama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Gilang tidak ngantor.

Tenaganya terkuras habis!
BILAMANA Gilang membuka matanya, ternyata matahari telah naik tinggi. Sinar mataliari yang menerobos dari ventilasi, jatuh tepat ke wajah Gilang. Terasa panas. Gilang melompat! Bekker di kamarnya telah menunjukkan pukul sebelas. Oukh! Tadi sebelum tidur, tenaganya benar-benar habis. Namun sekarang, Gilang kembali segar.
Sesegar bunga yang baru mekar. Inilah kelebihan Gilang yang sangat disenangi perempuan- perempuan yang haus kasih sayang!
Pada saat sedang duduk di pinggiran tempat tidur, Gilang mendengar suara cekikikan perempuan. Gilang mengenali salah seorang diantaranya. Suara tawa Tante Dcwi. Tetapi siapa seorang lagi ! Gilang bangkit dari duduknya dan ke luar dari kamar.

"Nah, dia sudah bangun . . . ! suara Tante Dewi. "Bennnnn! Kenalkan, nih! Teman Tante, Zus Mia!"
Gilang mengulurkan tangannya menyalami Zus Mia. Wah, bukan main. Gilang sampai terpana. Cantiknya selangit.
Apalagi dengan rambut di potong pendek, model lelaki. Diam-diam Gilang berkata dalam hatinya: Bagaimana sih rasanya perempuan seperti Zus Mia. Enak tentunya!
"Maaf, Zus ! Saya mandi dulu," ujar Gilang.
"Silahkan," jawab Zus Mia.
Setelah Gilang berlalu ke kamar mandi, Tante Dewi menjawil Zus Mia seraya katanya: "Kelihatannya Gilang naksir kamu, Mia!"

"Kayaknya sih begitu!" balas Mia.
Gilang mandi puas-puas. Tubuhnya terasa semakin segar lagi. Bila Gilang memasuki kamarnya setelah selesai mandi, Gilang terkejut sekali.
Tante Dewi dan Zus Mia sudah terlentang di tempat tidurnya dalam keadaan merangsang, tanpa busana!
Tetapi hanya sekejap Gilang terkesiap. Segera dia melepaskan handuk yang membelit tubuhnya. Gilang dalam keadaan telanjang bulat, menyergap Zus Mia yang terlentang di pinggiran tempat tidur. Zus Mia membalas. Agak malu-mau. "Ben!" ujar Tante Dewi. "Aku sering menceritakan tentang dirimu pada Zus Mia. Zus Mia terkesan. Dan ingin pula mencicipi kejantananmu yang perkasa itu!" kata Tante Dewi. "Betulkah itu, Zus!" tanya Gilang.

Zus Mia mengejap-ngejapkan matanya. "Eh . . . tidak ! Eh, iyyaa! Tetapi nggak apa-apa, kan! Kamu bersedia, kan ! Memberikan kebahagian padaku!" ujar Zus Mia agak gagap.
"Tentu saja! Siapapun akan siap memberikan kebahagiaan pada Zus Mia yang cantiknya selangit begini!" kata Gilang.

Zus Mia tertawa-tawa kecil ketika Gilang mengecupi bibir dan seluruh wajahnya bertubi-tubi. Mendapat giliran pula lehernya yang jenjang merangsang. Lalu pentil-pentil susunya yang tegak merangsang.
Ugf! Ternyata menggeluti Zus Mia mempunyai keasyikan tersendiri.
Buah dadanya lebih besar dan lebih padat pada millk Tante Dewi.
Pentil susunyapun lebih besar dan merangsang! Demikian pula bukit kemaluannya. Lebih mumbul. Hanya saja, rambut kemaluannya tidak selebat milik tante Dewi dan Aningsih!
"Bennnnn! Ehg.
Aukhhhh . . . !!!" Zus Mia menjerit sejadi-jadinya bilamana kepala zakar Gilang yang bengkak dan besar itu menyeruak lobang vagina Zus Mia yang sangat kecil dan sempit. Zus Mia merasakan sakit amat sangat. Ini dimaklumi, karena Zus Mia belum pernah merasakan senjata yang besarnya seperti kemaluan kuda !
"Bennnnnn ! Ssssakkkittthhhsss . . . !!" kata Zus Mia berkelojotan.

"Tahankan, Mia.
Tahankan!" ujar Tante Dewi sambil. memegangi keclua kaki Zus Mia. "Nantipun kau akan merasakan enak.
Tahankan, sayang !"
Benar saja. Kalau tadi, Zus Mia merasakan sakit luar biasa, lama kelamaan rasa sakit itu hilang, berganti dengan rasa enak luar biasa. Sudah tentu Zus Mia senang sekali, Gerakan-gerakan memutar pantat dan pinggulnya sungguh romantis, seirama dengan ayunan-ayunan pantat Gilang yang naik turun dan sesekali melakukan gerakan memutar yang aduhai.

"Oukh., Bennnn! Ennnaakhhh, sayangghhhh . . . !" demikian ujar Zus Mia berulang-ulang.
Gilang tersenyum sambil terus juga memnyerbu bukit kemaluan Mia yang indah menantang. Tante Dewi yang menyaksikan adegan itu jadi terangsang. Segera dia berdiri, mcngangkangi kepala Zus Mia. Ditariknya kepala Gilang. Gilang mengerti. Tante Dewi ingin agar Gilang mengerjai kemaluan Tante Dewi dengan mulutnya. "Ayoh, Bennn! Ciumi punyaku ! Aku juga sudah tidak tahannhhhh . . . !" ujar Tante Dewi dengan suara sengau tak menentu.

Gilang melakukan dua macam kesibukan. Sementara kemaluannya menerobos keluar masuk belahan daging Zus Mia, mulutnya dengan mesra menciumi bukit kemaluan Tante Dewi yang sudah mekar menantang.
"Bennnn ! Aukhhh! Terruusssh, Bennnn! lyyyyaaakhhh . . . ! "Zus Mia terus meracau.
"Addduuuuh, Bennnn ! Enaknyaaa! Terrusssh. sayangghhh! Kelentitnya, Bennnn ! Iyyyaaahhhh! Nah, itu,
tuuuuuh! Uf! Hmmm, . . . nyem! Nyem! Gigit, Bennnn! Gighhhiuitttssss . . . !!" Tante Dewi juga meracau sambil menekan belakang kepala Gilang, sehingga hidung dan mulut lelaki muda itu masuk seluruhnya ke belahan kemaluan Zus Mia yang mekar semekar-mekarnya.
"Besssss!"
"Sleessep!"
"Blessss!" "Ahk . . . ih!"
"Oukh . . . !!"

"Hmhhh !!"
Berbagai suara, ditingkah dengan berkecipaknya zakar Gilang yang timbul tenggelam, terdengar sangat merdu dan mesra. Mulut vagina yang sempit itu ikut monyong ketika Gilang menarik senjatanya dan sampai kempot melesak ke dalam pada waktu Gilang mengamblaskan zakarnya. Lama mereka bertarung mati-matian, sampai akhirnya Tante Dewi yang terlebih dulu kejang. Tante Dewi menekan belakang kepala Gilang sekuat-kuatnya, sambil menjerit histeris.

"Bennnnn!AkhhhuUUu kelluarrr . . . !!! Sshhh . . . akkkkhhh . . . !!" dan Tante Dewi sambil setengah berdiri, meliuk-liuk seperti orang kesetanan ! Kepalanya terlempar ke sana-ke mari.

Dengkulnya gemerar sekali. Punggunya setengah menekuk, bagaikan udang tangannya meremas-remas dan menjajarambut Gilang sampai lelaki itu merasa sakit. Namun bercampur kenikmatan. Pada saat itu pula. Gilang merasakan semburan- semburan lahar panas dari dalam lorong vagina Tante Dewi. Banyak sekali. Kental dan licin.
Gilang bagaikan orang yang haus, dengan rakus meneguk semua cairan itu. Tanpa tersisa lagi. Terasa gurih dan harum! Tante Dewi segera jatuh tergelimpang dengan lemasnya.

Namun penuh puas!
Gilang masih bertarung dengan Zus Mia. Dua menit setelah jatunhnya Tante Dewi, Zus Mia menjerit-erit histeris.
Tubuhnya berkelojotan, seperti ayam disembelih. Menggelepar-gelapar.
"Oukh, Bennnnn! Akhhuuuu keluarrrhhhh!!! Ssshhh, Bennn! Akkhhh! Ennnnnaaakhhhh !!! dan Zus Mia tidak lagi mampu mempertahankan bentengnya.
Bobol seketika.
Lahar menyembur-nyembur.
Mata Zus Mia terbeliak-beliak.
Cuma kelihatan putihnya saja.
Kuku-kukunya yang panjang-panjang itu, mencakar-cakar punggung Gilang sampai berdarah! Zus Mia segera lemas setelah mencapai puncak kenikmatan. Namun Gilang sendri belum, Gilang masih terus menaik turunkan pantatnya dengan bersemangat. "Oukh, Ben! Akkhhuuu lemassss Lettttiih Isti . . . rahattsss duluuu, Bennnnn! !!" Zus Mia merintih-rintih.

"Sebentar, Zus. Tanggung, nih! Mau enak, Zus! Tahankan!" ujar Gilang tersendat-sendat. "Ampun, Bennnn!Ampunnnnn! !!"
Tetapi mana mau Gilang mempedulikan rintihan-rintihan Zus Mia. Malah Gilang semakin ganas dan bersemangat menghujamkan batang kemaluannya. Zus Mia meronta-ronta. Gilang menekan tubuh Zus Mia dengan tangannya. Dan zakarnya terus juga bekerja. Blassssh! Slesssepsss!Srrrt! Blassshhhh ! !!" Ampun, Bennnn ! Ampunnn !" "Sebentar, Zus . . . !!"

Dari letih, lemas dan tidak bertenaga, akhirnya Zus Mia jadi bernafsu lagi, karena bukit kemaluannya terus menerus diserbu habis-habisan oleh zakar Gilang yang perkasa. Dan Zus Mia pun mulai menggoyanggoyangkan pinggulnya, memutarmutar romantis. "Bennnnn, . !! Uukh, kau sungguh perkasa dan pintar. Aku jadi nafsu lagi. Enak lagi, Bennnnn!!" Zus Mia mengerumasi rambut Gilang. Dan merekapun terus bertarung, mendaki bukit yang terjal.

Lima belas menit kemiudian, barulah keduanya mencapai orgasme secara bersamaan. "Zusssshhhh! Akkkhhuuuu kelluuuarrr, ssshhh . . . ! Akkkkhhhh !! Oukh !!" dan Gilang menggeram hebat bagaikan harimau lapar bertemu lawan. Kedua lengannya yang kekar memeluk dan menekan tubuh Zus Mia sekuat-kuatnya, sehingga Zus Mia merasakan tubuhnya remuk seketika. "Oukh, Ben! Akhhhuuu jughhhaaa kelluarrr . . . sssh, akhhhhh !!" Banjirlah lorong vagina yang sempit itu, sehingga sebagian menetes-netes ke luar, membasahi sprei. Semprotan-semprotan bertubi-tuhi telah menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya, saling bercampur kental, hangat dan licin! Hmmmmmh, benar-benar sorga dunia!

Gilang segera tergelincir dari tubuh Zus Mia. Tante Dewi yang sudah mendapatkan istirahat cukup setelah menyemprotkan cairan mani, naik spanning. Dia tidak memberikan kesempatan pada Gilang untuk beristirahat. Ditariknya lelaki itu dari tempat tidur. "Ayoh, Bennn! Kerjai aku sambil berdiri. . . . !!" ujar Tante Dewi yang sudah-tersengal-sengal bernafsu!

Gilang bukanlah Gilang kalau dia tidak mampu melayani tantangan perempuan secantik Tante Dewi. Dasar mesin tokcer, sekalipun tanpa istirahat, Gilang sanggup untuk bertarung lagi. Dalam keadaan berdiri, Gilang menekan tubuh Tante Dewi ketembok.

Sebelah paha Tante Dewi diangkatnya tinggitinggi, sehingga memperlihatkan belahan kemaluan yang sudah mekar semekar-mekarnya. Gilang lalu mengunjamkan senjatanya ke belahan yang amat menawan itu. "Oukh, Bennn!! Ennnaaakhhhhh!!"
Pertarungan sengit sambil berdua itu dimenangkan oleh Gilang. Tante Dewi lebih dulu mengeluarkan cairannya dan segera merosot jatuh lemas ke lantai. Gilang penasaran, karena belum mencapai puncak kenikmatan.

Senjatanya maslh tegangtegangnya. Gilang melihat Zus Mia masih berbaring dengan kedua paha terkangkang selebar-lebarnya. Maka Gilang segera menubruknya. Dan pergumulanpun terjadi. Semakin dahysat dari pada yang sudah-sudah!
Demikianlah berganti-ganti Gilang mengerjai kedua perempuan cantik itu. Gilang benar-benar kuda jantan yang patut diacungi jempol. Tante Dewi dan Zus Mia benar-benar merasa puas. Bahkan Zus Mia lebih gawat lagi, ingin memiliki Gilang seutuhnya!

Namun secara jujur, Gilang harus mengakui, bahwa diantara sekian banyak perempuan-perempuan yang pernah digaulinya, hanya dengan Aningsih Gilang merasa puas. Benar-benar kepuasan sempurna. Tante Dewi enak. Zus Mia lebih enak dari pada Tante Dewi. Namun kepunyaan Aningsihlah yang terlebih enak! Maka Gilang tidak dapat melupakan Aningsih!

Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Betapa kecewanya Gilang ketika mendatangi rumah Aningsih pada beberapa hari kemudian, ternyata Aningsih sudah pindah menempati rumah sendiri. Baru dibelinya ! Ujar teman sekamar Aningsih.
"Pindah ke mana, Zus!" tanya Gilang penasaran.
"Maaf! Saya tidak dapat memberitahukan. Ini atas kemauan Aningsih sendiri!"
"Lho, mengapa begitu!" tanya Gilang makin penasaran. "Saya sendiri tidak tahu," teman sekamar Aningsih mengangkat bahu.

Gilang menghempaskan napasnya. Mengapa Aningsih bersikap aneh begitu ! Disaat rindu sedang menggebu-gebu, dia menghilang,. Padahal aku dan dia baru saja berkenalan, demikian kata hati Gilang. Dengan lesu Gilang minta diri dan meninggalkan rumah Aningsih. Kemana dia ? Mengapa dia tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya yang baru! Apakah dia membenciku !

Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia tidak mau memaafkanku! Gilang mengerumas rambutnya setelah tiba di tempat kostnya.
Aningsih! Mengapa kau begitu cepat menghilang, padahal aku benar-benar sangat merindukanmu! Hanya kaulah yang mampu memberikan kepuasan yang sempurna padaku.
Tidak perempuan-perempuan lain! Dan untuk kesekian kalinya, Gilang meremasi lagi rambutnya dengan resah.
Bertepatan dengan itu, pintu terbuka. Masuklah Tanta Dewi. "Kau kelihatannya resah sekali, Ben!" bertanya Tanta Dewi.

"Saya sedang pusing, Tante . . . !!" ujar Gilang malas-malasan. Aningsih dengan sengaja seolah-olah menghindari Gilang, pada hal perempuan itu mengakui, telah memperoleh kebahagiaan sempurna dari Gilang. Mengapa bisa demikian ! Benarkah Aningsih membenci Gilang! Benarkah Gilang telah melakukan kesalahan fatal, sehingga Aningsih tidak dapat memaafkannya ! hehehehhehe...